Twelve Stories and a Dream” karya H. G. Wells merupakan kumpulan karya sastra yang mencakup periode akhir abad ke-19, dan menunjukkan gaya bercerita yang penuh imajinasi serta wawasan satir khas Wells. Kompilasi ini terdiri dari dua belas cerita pendek, masing-masing menyajikan perspektif unik tentang sifat manusia, teknologi, dan elemen-elemen fantastis. Cerita-cerita tersebut membahas tema-tema seperti ambisi pribadi, penemuan ilmiah, serta kebetulan yang tak terduga, sebagaimana diilustrasikan melalui tokoh Filmer—seorang penemu yang pemalu namun ambisinya berujung pada konsekuensi yang tidak terduga. Cerita pembuka dalam “Twelve Stories and a Dream” memperkenalkan Filmer, seorang penemu yang sering diabaikan, namun pada akhirnya diakui sebagai pencipta mesin terbang. Narasi ini memberikan gambaran tentang kehidupan Filmer, perjuangannya, serta pandangan masyarakat terhadap kejeniusannya—terutama ironi yang timbul karena ia dihormati atas penemuan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia dukung secara penuh. Perjalanannya dipenuhi dengan kombinasi keteguhan dan rasa takut saat ia menghadapi implikasi dari kesuksesannya serta harapan-harapan yang timbul akibatnya. Pengantar ini mencerminkan gaya penulisan Wells yang menggabungkan realisme dengan ide-ide spekulatif, membawa pembaca ke dalam dunia di mana ambisi dan kecemasan saling berkelindan.